cerpen “MALU”
“ M A L U “
oleh : Saeful Iman Haq
Kali ini di hari sabtu Jono bangun di pagi buta, tidak seperti
biasanya jika bangun tidur sering kesiangan. Sebab, dia dan
teman-temannya akan mengikuti pelatihan Jurnalistik di Banten Lama. Pagi
itu Jono tersuguhi secangkir teh manis hangat yang tersaji diatas meja
makan. Tanpa basa-basi, dia langsung seruput secangkir teh hangat
seakan-akan itu miliknya padahal itu milik ayahnya yang dibuatkan bi
Ijah (seorang pembantu).
Seusai mandi, Jono bersiap-siap kemudian berkumpul bersama
teman-teman peserta pelatihan Jurnalistik di kampus. Sambil menunggu
angkutan umum, Jono terlihat menikmati harinya dengan penuh candaan dan
sesekali berpose bersama teman-teman sebagai kenang-kenangan. sungguh
awal hari yang indah terlihat dibibir dan mimik wajah Jono yang tampan
itu.
Beberapa menit kemudian, mobil angkutan yang ditunggu itu datang
secara bersamaan. kira-kira ada 5 mobil angkutan saat itu. Tanpa banyak
aktifitas, Jono dan teman-temannya langsung memasuki mobil yang sudah
ditentukan oleh panitia. Kebetulan Jono duduk tepat berada di pintu
mobil angkutan tanpa menggunakan kursi. Diperjalanan Jono terlihat asyik
bernyanyi-nyanyi ditambah hembusan-hembusan angin kencang membuatnya
tidak merasa gerah seperti teman-teman lainnya yang berada didalam
mobil. Meskipun sebenarnya dia tengah menahan rasa panas tempat
duduknya, karena dia tepat duduk diatas mesin kendaraan yang biasanya
berada di bagian bawah tepat di pintu masuk.
Sesampainya di tujuan, Jono hendak turun dari mobil angkutan yang
membawanya dan terlihat akan berhenti. Tanpa berpikir panjang, Jono pun
langsung lompat keluar mobil. Naas saat Jono melompat keluar mobil, sang
supir menarik gas dan tidak jadi memberhentikan mobil. Ternyata saat
itu sang supir melihar ada genangan air dan tidak ingin peserta merasa
terganggu saat turun.
Awal hari yang indah yang tengah dirasakan Jono itu sontak menjadi
mendung gara-gara sang supir mengurungkan niat untuk memberhentikan
mobil. Jono yang saat itu terlanjur lompat, langsung terlempar dan
terguling-guling sejauh satu meter. Teman-teman yang berada dalam kelima
mobil dan warga-warga sekitar terbelalak, kaget dan terdiam tanpa kata
sedikitpun. Sedangkan salah satu warga sekitar yang berada di warung
dekat tempat kejadian langsung berlari sembari membawa minuman yang dia
ambil dari rentetan dagangan dan hendak menolong Jono yang terguling di
tanah agar tidak merasa syok dan kembali tenang. Namun sesaat sebelum
warga sampai menghampirinya, Jono langsung berdiri dan langsung tertawa
untuk menghilangkan rasa malu. Tapi, teman-teman Jono dan para warga
sekitar jadi ikut tertawa bahkan terbahak-bahak melebihi tertawa Jono.
Ternyata mereka merasa Jono tidak apa-apa dan tidak perlu ditolong.
Keadaan itu membuat Jono semakin merasa malu. Dan tentu saja salah
seorang warga yang hendak menolong juga merasa aneh, mengapa semua orang
tertawa?. Dengan polosnya seorang warga tersebut ikut tertawa dan
kembali ke warung untuk menaruh minuman yang sebelumnya dia ambil dari
rentetan minuman yang dijajakan di warung. Jono yang melihat seorang
warga itu kembali, bertutur “sial ! kenapa minumannya ditaro
lagi???????”, bisik Jono dalam keadaan sedikit tertawa palsu.
Jono dan teman-temannya pun pergi ke ruangan pelatihan setelah tawa itu meredup.