Rabu, 21 Januari 2015

cerpen “MALU”

“ M A L U “
oleh : Saeful Iman Haq
Kali ini di hari sabtu Jono bangun di pagi buta, tidak seperti biasanya jika bangun tidur sering kesiangan. Sebab, dia dan teman-temannya akan mengikuti pelatihan Jurnalistik di Banten Lama. Pagi itu Jono tersuguhi secangkir teh manis hangat yang tersaji diatas meja makan. Tanpa basa-basi, dia langsung seruput secangkir teh hangat seakan-akan itu miliknya padahal itu milik ayahnya yang dibuatkan bi Ijah (seorang pembantu).
Seusai mandi, Jono bersiap-siap kemudian berkumpul bersama teman-teman peserta pelatihan Jurnalistik di kampus. Sambil menunggu angkutan umum, Jono terlihat menikmati harinya dengan penuh candaan dan sesekali berpose bersama teman-teman sebagai kenang-kenangan. sungguh awal hari yang indah terlihat dibibir dan mimik wajah Jono yang tampan itu.
Beberapa menit kemudian, mobil angkutan yang ditunggu itu datang secara bersamaan. kira-kira ada 5 mobil angkutan saat itu. Tanpa banyak aktifitas, Jono dan teman-temannya langsung memasuki mobil yang sudah ditentukan oleh panitia. Kebetulan Jono duduk tepat berada di pintu mobil angkutan tanpa menggunakan kursi. Diperjalanan Jono terlihat asyik bernyanyi-nyanyi ditambah hembusan-hembusan angin kencang membuatnya tidak merasa gerah seperti teman-teman lainnya yang berada didalam mobil. Meskipun sebenarnya dia tengah menahan rasa panas tempat duduknya, karena dia tepat duduk diatas mesin kendaraan yang biasanya berada di bagian bawah tepat di pintu masuk.
Sesampainya di tujuan, Jono hendak turun dari mobil angkutan yang membawanya dan terlihat akan berhenti. Tanpa berpikir panjang, Jono pun langsung lompat keluar mobil. Naas saat Jono melompat keluar mobil, sang supir menarik gas dan tidak jadi memberhentikan mobil. Ternyata saat itu sang supir melihar ada genangan air dan tidak ingin peserta merasa terganggu saat turun.
Awal hari yang indah yang tengah dirasakan Jono itu sontak menjadi mendung gara-gara sang supir mengurungkan niat untuk memberhentikan mobil. Jono yang saat itu terlanjur lompat, langsung terlempar dan terguling-guling sejauh satu meter. Teman-teman yang berada dalam kelima mobil dan warga-warga sekitar terbelalak, kaget dan terdiam tanpa kata sedikitpun. Sedangkan salah satu warga sekitar yang berada di warung dekat tempat kejadian langsung berlari sembari membawa minuman yang dia ambil dari rentetan dagangan dan hendak menolong Jono yang terguling di tanah agar tidak merasa syok dan kembali tenang. Namun sesaat sebelum warga sampai menghampirinya, Jono langsung berdiri dan langsung tertawa untuk menghilangkan rasa malu. Tapi, teman-teman Jono dan para warga sekitar jadi ikut tertawa bahkan terbahak-bahak melebihi tertawa Jono. Ternyata mereka merasa Jono tidak apa-apa dan tidak perlu ditolong. Keadaan itu membuat Jono semakin merasa malu. Dan tentu saja salah seorang warga yang hendak menolong juga merasa aneh, mengapa semua orang tertawa?. Dengan polosnya seorang warga tersebut ikut tertawa dan kembali ke warung untuk menaruh minuman yang sebelumnya dia ambil dari rentetan minuman yang dijajakan di warung. Jono yang melihat seorang warga itu kembali, bertutur “sial ! kenapa minumannya ditaro lagi???????”, bisik Jono dalam keadaan sedikit tertawa palsu.
Jono dan teman-temannya pun pergi ke ruangan pelatihan setelah tawa itu meredup.